-->

Fachrul

Berjalan

Memotret

Menulis

Saya, Fachrul Akbar Tirtawidjaja

Seseorang yang senang berjalan jauh, memotret apa saja yang dilihat, dan senang menuangkan pikirannya kedalam bentuk tulisan tak baku, tetapi menysipkan idealisme karena perutnya sudah mulai sedikit kenyang.

Apa Isi Blog Ini?
Sajak

Beberapa tulisan yang "kata orang" punya rima dan diksi bagus, tapi tak penting. Tapi menurut saya punya nyawa lebih bagus

Opini

Menuangkan beberapa opini dari apa yang telah dilihat, direnungkan dan menjadi pertanyaan dalam diri.

Bola

Rubrik khusus sepakbola, salah satu olahraga yang saya senangi sejak kecil, namun akan saya bahas dari sudut pandang lain.

Artikel Populer

Jatinangor Bukan Hanya Cerita Tentang Angka-Angka Pada Selembar Ijazah

Jatinangor Bukan Hanya Cerita Tentang Angka-Angka Pada Selembar Ijazah
Foto : Arsip Pribadi Fachrul Akbar Tirtawidjaja

Jatinangor
tak selalu bercerita tentang perjuangan untuk mendapatkan angka-angka yang tertulis pada selembar ijazah, disini ada setetes perjuangan dan keromantisan yang akan kamu ingat, walau kadang cerita itu tak selalu berakhir dengan manis seperti Jalan Sayang. Jatinangorlah yang mengajarkanmu arti hidup. Menjadi seorang ibu yang harus menyiapkan sarapan setiap pagi, bergadang mengerjakan tugas kuliah dan organisasi setiap malam, atau mungkin kamu akan bertindak seperti seorang ayah yang mencari nafkah dalam keadaan susah.

Entah di semester keberapa kamu menemukan hal paling romantis, yang pasti Jatinangorlah yang telah memberikannya. Ada yang pas pertama datang dan diterima menjadi mahasiswa baru, pun cerita romantis kadang datang di saat kamu menjadi mahasiswa yang sedang giat mengejar dosen, dimana kamu semakin tak rela untuk meninggalkan tempat ini. Mungkin kamu pernah berlelah-lelah berdua di tanjakan cinta, atau menyusuri setiap dinding yang berbaris rapi disini, lalu beristirahat di rindangnya pepohonan arboretum.

Gemericik air di arboretum sudah barang tentu menjadi musik pengiring yang akan selalu terngiang dalam ingatanmu. Disinilah pula kamu pernah berbisik tentang asa, cinta dan air mata. Kamu pernah berbicara tentang masa depanmu setelah meninggalkan tempat ini, lalu menempelkan jari kelingkingmu pada orang yang kamu cinta. Tapi, di tempat ini pula kamu pernah berteriak dengan sangat kencang kalau bahumu sudah sangat rapuh, tak ada lagi tempat bersandar disini. 

Cerita romantisnya kampus ini datang dari sudut lain. Mungkin kamu pernah berinteraksi dengan ramahnya pedagang Pasar Unpad (PAUN). Di tempat ini lah kamu pernah membelikan sesuatu untuk orang yang kamu cinta. Makan di tengah-tengah keramaian pasar ini juga menjadi bumbu cerita yang akan selalu kamu ingat. Saat kamu tinggal di Asrama Padjadjaran yang dekat dengan gedung rektorat, PAUN seperti sunrise yang akan kamu nikmati setiap bangun pagi di hari Minggu.

Kamu mungkin ingat, kamu selalu bermain gitar di atas balkon asarama lantai 2. Kemudian menyanyikan lagu-lagu Pidi Baiq. Lagu wajib kala itu tentulah yang berjudul "Sudah Jangan Ke Jatinangor", yang kedua "Librani". Jika bosen sedikit, biasanya kamu akan beramai-ramai menyanyikan lagu Firman yang berjudul Kehilangan, tapi kata "Asmara" nya kamu sudah kompak untuk menggantinya dengan "Asrama" haha. Hidup sungguh indah sekali ketika bernyanyi bersama-sama. Seakan lupa dengan dengan laporan-laporan praktikum yang menjejali setiap isi kepala. 

Kalau aku boleh bermetafora. Bagiku, setiap sudut Jatinangor itu romantismenya melebihi Djogja. Kamu boleh tidak setuju, tapi itulah yang terjadi. 

Kala malam menjelang, romansa tempat ini akan lebih membekas di ingatan. Menyusuri tempat-tempat makan di sepanjang Jalan Ciseke hingga Jalan Sayang. Atau memesan Hipotesa dan Gembul kala rasa malas menghinggapi tubuh. Kamu yang di Cisaladah mungkin akrab dengan Munjul. Mengingat-ngingat jasa delivery saja membuat senyum kecil mu merekah, bagaimana tidak? Makanan yang di pesan sering kali datang 2 jam kemudian atau lebih sialnya lagi, makanan yang di pesan tak sampai ke kosan hingga kamu ketiduran karena lapar. Maklum saja, dulu kamu memesannya menggunakan Whatsapp dan Line demi menghindari ongkos kirim yang mahal, sehingga tak ada tombol pembatalan  seperti di aplikasi yang biasa di gunakan orang-orang kini.

Menjelang akhir perkuliahan disini, rasanya kamu berat untuk berpisah dengan sahabat-sahabat mu. . Di waktu yang sama juga orang tuamu di rumah menunggu gelar sarjana mu. Mereka ingin melihatmu di wisuda, memakai toga kemudian berfoto bersama. Kadang di penghujung telepon ibumu bilang, "Nak, maaf ya bulan ini ibu belum kirim uang, ayah lagi enggak punya, tapi ibu lagi usahakan". Kalimat yang bikin kamu ingin segera lulus dan bekerja. Apalah daya, skripsi yang sedang di susun tampaknya banyak direvisi. Diskusi dengan dosen pembimbingmu lagi dan lagi menuai jalan buntu. Di sudut yang sama, temanmu yang menemani kesana kemari kini udah di acc oleh dosen pembimbingmu. Bulan depan tampaknya dia sidang. Kala itu kamu hanya mengambil gitar dan mulai menyanyikan Lagu Pidi Baiq dengan penuh penghayatan,

"Lalu kapan saya akan di wisuda?"
 
Penggalan lirik di awal lagu yang hampir setiap mahasiswa kuliah disini pernah menyanyikannya. Terlebih ketika badai skripsi menghampirinya. Sadar atau pun tidak, skripsi membuatmu jadi pribadi yang tangguh. Akhirnya skripsimu pun di acc, kamu pun di wisuda. Air matamu tak terasa menetes ketika akan meninggalkan tempat ini. Melihat kosan berukuran 3 x 4 yang penuh cerita, Bersalaman dengan sahabatmu yang telah menjadi keluarga, dan membayangkan romantisme yang menjejali setiap sudut tempat ini. Sebagai penutup, saya ingin mengutip kalimat dari ayah Pidi Baiq. 

"Apapun kampusmu itu adalah kampusmu, orang-orang harus tau, semuanya adalah romantisme, sisanya adalah perjuangan"               

Dewi Malam

Dewi Malam

Mata ku menolak sayu, melihat Dewi Malam yang sedang bercahaya.

Pikiranku berkecamuk, 

rindu akan hamparan padang tak terhalang ruang, tak lagi menjadi delusi. 

Pagi itu udara terasa dingin. 

Matahari sedikit malu-malu muncul di punggung gunung, 

menyapa ketika kami akan pergi.

Mobil melesat memasuki Cileunyi, 

membelah diantara keramaian dan harapan.  


Orang-orang tau kalau Dewi Malam selalu punya senjata

Memikat semua hal tentang hidup

Tentang bicaranya, tentang sikapnya

Tapi kala itu ia berikan untuk ku

Persis di balik belakang mobil

Suaranya menerobos angin yang berhembus kencang


Ilalang-ilalang mungkin iri

Ia tak bisa mendengar suara dewi malam yang merdu

Melihat alis matanya yang tebal

Atau bercanda dengan sikapnya yang lembut.

Kala itu rasanya bumi berhenti berputar sejenak

Ya, sejenak saja

Karena malam telah menerkamnya

Ia harus kembali menyinari semesta


Malam ini ia menyapa di balik jendela,

Persis seperti yang telah ku katakan, bercahaya

Mungkin ini hari bahagia nya

Pertarungan Facebook, Twitter dan Instagram Dari Masa ke Masa Untuk Mendapatkan Hati User

Ilustrasi Gambar : Studykinase

Fenomena media sosial kini telah berkembang pesat sekali, orang-orang tak perlu lagi menggunakan laptopnya untuk bersosial di dunia maya. Dunia yang katanya sangat fana ini kini bisa di akses dimana saja menggunakan smartphone. Persaingan harga dan spesifikasi smartphone dari berbagai brand tentu sangat mempengaruhi perkembangan sosial media saat ini.

Sebelumnya saya telah menyinggung tentang fenomena anak muda yang berhijrah dari Facebook ke Instagram. Kebanyakan alasan mereka hijrah ke Instagram adalah tampilannya yang dianggap lebih enak di pandang ketika di buka di smartphone, sedangkan Facebook tidak demikian. Sekarang coba buka keduanya di PC atau Laptop. Facebook akan terasa lebih elegan dibandingkan Instagram. Kesimpulan saya pribadi, keduanya memang di peruntukan untuk perangkat yang berbeda, Facebook untuk Desktop dan Instagram untuk smartphone.

Satu hal lagi yang mungkin tidak orang-orang sadari adalah saat dulu kita pertama kali menggunakan Facebook, kita lebih senang “berteman” daripada like Fanspage, sementara para artis atau orang ternama lebih banyak menggunakan Fanspage nya. Sebagai user, kita pribadi kurang senang ketika berhubungan dengan admin Fanspage dibandingkan dengan Facebook pribadinya. 

Setali tiga uang, masalah yang kedua pun sama-sama berhubungan. Dahulu Facebook lebih terkenal menggunakan nama daripada username, sedangkan instagram sebaliknya. Masalah yang kemudian timbul adalah nama bisa dibuat sama persis oleh beberapa akun, sedangkan username tidak (minimal ada satu karakter berbeda). Itulah mengapa sangat mudah mendeteksi akun asli atau cloningan di instagram dibandingkan dengan di Facebook.

Bagaimana dengan twitter?

Saya rasa para pengguna twitter terbagi kedalam dua generasi. Pertama adalah orang-orang terdahulu yang menggunakan twitter sebelum sering terjadi “perang hastag” di twitter. Dan yang kedua, orang-orang yang setelah terjadi. Para generasi pertama saya kira lebih pasif, karena saat itu lebih kalah pamor dengan Facebook. Dimana saat itu orang-orang sering update status di “dindingnya” atau menulis pesan di “dinding” temannya. Pengguna Facebook saat itu tak perlu belajar cara membaca sebuah status dari belakang seperti hal nya di Twitter.

Saking mudahnya inilah saat itu jutaan orang tiap detik update status. Mereka tak peduli status itu senang, sedih, pribadi, umum. Saat itu yang terjadi adalah sebuah kebanggaan karena merasa di perhatikan semua teman Facebooknya. Padahal itu hanya ilusi yang diciptakan diri sendiri. Teman-teman di dunia maya hanya “ingin tahu” tapi sebenarnya tak peduli dengan masalahmu.

Setelah Twitter cukup lama ditinggalkan penggunanya, kemudian muncul lah generasi receh di Twitter. Generasi ini saya anggap generasi kedua. Pada saat generasi inilah orang orang lebih sering update status di Twitter atau yang lebih sering kita sebut nge tweet. Terlebih karena yang ditulis adalah kebenyakan jokes-jokes receh yang mudah diterima. Pada saat itu pula Twitter mengganti tampilannya. Sebuah tweet tak perlu lagi dibaca dari belakang. Tinggal klik thread, satu utas langsung muncul. Ketika sebuah tweet di retweet pun tampilan nya sudah seperti status Facebook yang di like.  

Dengan adanya fitur “Thread” itulah twitter menurut saya menjadi ramai kembali. Satu masalah bisa dibikin beberapa tweet tapi tentunya dengan satu Thread. Inilah kemudian yang menurut saya mengalahkan Facebook, dimana fitur ini tak ada, walaupun di Facebook sebetulnya bisa nulis panjang. Tapi pembagian tulisan menjadi beberapa tweet ini bisa membanjiri halaman depan secara terus menerus. Twitter juga mengusung username seperti instagram, sehingga membuat user “seolah-olah” dekat dengan seorang idola nya. 

Satu hal yang harus di akui kalah telak oleh Facebook. Saat itu hastag yang dimiliki Twitter sangat laris. Sehingga orang-orang akan membahas satu fenomena yang sama dalam satu waktu. Ini yang kemudian menjadikan Twitter perang hastag. Facebook bukannya tinggal diam, ia pun sempat membuatnya. Namun entah kenapa tak banyak dipakai oleh penggunanya. Namun perusahaan ini tak sampai disitu, ia pun mengakuisisi Instagram, dimana Instagram ini juga sangat populer oleh hastagnya. Instagram pula sebetulnya yang membuat fitur insta story laris, padahal kalau merunut ke belakang fitur ini lebih dulu dipakai oleh para pengguna snap chat. Namun saat itu fenomena user Facebook hijrah ke Instagram sangat besar sehingga story snapchat kalah saing. 

Kini, setelah Facebook mengakuisisi Whatsapp, fitur story pun sudah masuk ke Whatsapp. Orang-orang lebih senang update status di Whatsapp ketimbang di story Instagram. Beberapa teman mengaku kalau yang melihat story di Whatsapp lebih bersifat teman dekat, tidak seperti di Instagram yang lebih random. Di lain sisi Instagram juga kini telah memiliki fitur reels dan akan lebih mempopulerkan fitur reels nya tersebut ketimbang fitur feeds untuk foto. Menarik untuk kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Penawaran Kerjasama

Name

Email *

Message *

Alamat

Jalan Didi Kartasasmita No. 56 Kota Banjar, Jawa Barat

No HP

083825331010

Website

www.fachrulakbar.com