-->

Fachrul

Berjalan

Memotret

Menulis

Sunday, 15 August 2021

Jatinangor Bukan Hanya Cerita Tentang Angka-Angka Pada Selembar Ijazah
Jatinangor Bukan Hanya Cerita Tentang Angka-Angka Pada Selembar Ijazah
Foto : Arsip Pribadi Fachrul Akbar Tirtawidjaja

Jatinangor
tak selalu bercerita tentang perjuangan untuk mendapatkan angka-angka yang tertulis pada selembar ijazah, disini ada setetes perjuangan dan keromantisan yang akan kamu ingat, walau kadang cerita itu tak selalu berakhir dengan manis seperti Jalan Sayang. Jatinangorlah yang mengajarkanmu arti hidup. Menjadi seorang ibu yang harus menyiapkan sarapan setiap pagi, bergadang mengerjakan tugas kuliah dan organisasi setiap malam, atau mungkin kamu akan bertindak seperti seorang ayah yang mencari nafkah dalam keadaan susah.

Entah di semester keberapa kamu menemukan hal paling romantis, yang pasti Jatinangorlah yang telah memberikannya. Ada yang pas pertama datang dan diterima menjadi mahasiswa baru, pun cerita romantis kadang datang di saat kamu menjadi mahasiswa yang sedang giat mengejar dosen, dimana kamu semakin tak rela untuk meninggalkan tempat ini. Mungkin kamu pernah berlelah-lelah berdua di tanjakan cinta, atau menyusuri setiap dinding yang berbaris rapi disini, lalu beristirahat di rindangnya pepohonan arboretum.

Gemericik air di arboretum sudah barang tentu menjadi musik pengiring yang akan selalu terngiang dalam ingatanmu. Disinilah pula kamu pernah berbisik tentang asa, cinta dan air mata. Kamu pernah berbicara tentang masa depanmu setelah meninggalkan tempat ini, lalu menempelkan jari kelingkingmu pada orang yang kamu cinta. Tapi, di tempat ini pula kamu pernah berteriak dengan sangat kencang kalau bahumu sudah sangat rapuh, tak ada lagi tempat bersandar disini. 

Cerita romantisnya kampus ini datang dari sudut lain. Mungkin kamu pernah berinteraksi dengan ramahnya pedagang Pasar Unpad (PAUN). Di tempat ini lah kamu pernah membelikan sesuatu untuk orang yang kamu cinta. Makan di tengah-tengah keramaian pasar ini juga menjadi bumbu cerita yang akan selalu kamu ingat. Saat kamu tinggal di Asrama Padjadjaran yang dekat dengan gedung rektorat, PAUN seperti sunrise yang akan kamu nikmati setiap bangun pagi di hari Minggu.

Kamu mungkin ingat, kamu selalu bermain gitar di atas balkon asarama lantai 2. Kemudian menyanyikan lagu-lagu Pidi Baiq. Lagu wajib kala itu tentulah yang berjudul "Sudah Jangan Ke Jatinangor", yang kedua "Librani". Jika bosen sedikit, biasanya kamu akan beramai-ramai menyanyikan lagu Firman yang berjudul Kehilangan, tapi kata "Asmara" nya kamu sudah kompak untuk menggantinya dengan "Asrama" haha. Hidup sungguh indah sekali ketika bernyanyi bersama-sama. Seakan lupa dengan dengan laporan-laporan praktikum yang menjejali setiap isi kepala. 

Kalau aku boleh bermetafora. Bagiku, setiap sudut Jatinangor itu romantismenya melebihi Djogja. Kamu boleh tidak setuju, tapi itulah yang terjadi. 

Kala malam menjelang, romansa tempat ini akan lebih membekas di ingatan. Menyusuri tempat-tempat makan di sepanjang Jalan Ciseke hingga Jalan Sayang. Atau memesan Hipotesa dan Gembul kala rasa malas menghinggapi tubuh. Kamu yang di Cisaladah mungkin akrab dengan Munjul. Mengingat-ngingat jasa delivery saja membuat senyum kecil mu merekah, bagaimana tidak? Makanan yang di pesan sering kali datang 2 jam kemudian atau lebih sialnya lagi, makanan yang di pesan tak sampai ke kosan hingga kamu ketiduran karena lapar. Maklum saja, dulu kamu memesannya menggunakan Whatsapp dan Line demi menghindari ongkos kirim yang mahal, sehingga tak ada tombol pembatalan  seperti di aplikasi yang biasa di gunakan orang-orang kini.

Menjelang akhir perkuliahan disini, rasanya kamu berat untuk berpisah dengan sahabat-sahabat mu. . Di waktu yang sama juga orang tuamu di rumah menunggu gelar sarjana mu. Mereka ingin melihatmu di wisuda, memakai toga kemudian berfoto bersama. Kadang di penghujung telepon ibumu bilang, "Nak, maaf ya bulan ini ibu belum kirim uang, ayah lagi enggak punya, tapi ibu lagi usahakan". Kalimat yang bikin kamu ingin segera lulus dan bekerja. Apalah daya, skripsi yang sedang di susun tampaknya banyak direvisi. Diskusi dengan dosen pembimbingmu lagi dan lagi menuai jalan buntu. Di sudut yang sama, temanmu yang menemani kesana kemari kini udah di acc oleh dosen pembimbingmu. Bulan depan tampaknya dia sidang. Kala itu kamu hanya mengambil gitar dan mulai menyanyikan Lagu Pidi Baiq dengan penuh penghayatan,

"Lalu kapan saya akan di wisuda?"
 
Penggalan lirik di awal lagu yang hampir setiap mahasiswa kuliah disini pernah menyanyikannya. Terlebih ketika badai skripsi menghampirinya. Sadar atau pun tidak, skripsi membuatmu jadi pribadi yang tangguh. Akhirnya skripsimu pun di acc, kamu pun di wisuda. Air matamu tak terasa menetes ketika akan meninggalkan tempat ini. Melihat kosan berukuran 3 x 4 yang penuh cerita, Bersalaman dengan sahabatmu yang telah menjadi keluarga, dan membayangkan romantisme yang menjejali setiap sudut tempat ini. Sebagai penutup, saya ingin mengutip kalimat dari ayah Pidi Baiq. 

"Apapun kampusmu itu adalah kampusmu, orang-orang harus tau, semuanya adalah romantisme, sisanya adalah perjuangan"               

Seseorang yang senang berjalan jauh, memotret apa saja yang dilihat, dan senang menuangkan pikirannya kedalam bentuk tulisan tak baku, tetapi menysipkan idealisme karena perutnya sudah mulai sedikit kenyang.

2 Comments:

  1. banyak hal yang bersifat romantis dalam langkah-langkahku di Jatinangor, namun yang dapat aku utarakan hanya satu hal yakni tempe bacem buatan Bunda Kantin Asrama Padjadjaran II. Tempe bacem inilah yang membantu darah dalam tubuhku terus mengalir sehingga saya dapat melanjutkan kegiatan wajibku untuk belajar.

    Saeful milah

    ReplyDelete

Penawaran Kerjasama

Name

Email *

Message *

Alamat

Jalan Didi Kartasasmita No. 56 Kota Banjar, Jawa Barat

No HP

083825331010

Website

www.fachrulakbar.com